Bellissime Stelle ^^

Appreciating the Smallest Imagination

PENGARUH FAKTOR LINGKUNGAN TERHADAP LAJU TRANSPIRASI Juni 28, 2010

Filed under: Uncategorized — arcturusarancione @ 7:34 PM
  1. Tujuan

Mempelajari pengaruh faktor-faktor lingkungan: (1) Jumlah daun, (2) Sirkulasi udara, (3) Cahaya dan (4) Jumlah stomata terhadap laju transpirasi.

  1. Pendahuluan

Air merupakan salah satu faktor esensial yang berperan dalam menentukan kehidupan tumbuhan. Banyaknya air ayng terdapat di dalam tumbuhan tergantung selalu berfluktuasi, hal tersebut tergantung dari kecepatan penggunaan air oleh tumbuhan dan kecepatan proses hilangnya air dari tubuh tumbuhan. Transpirasi adalah proses keluarnya atau hilangnya air dari tubuh tumbuhan dalam bentuk uap air atau gas ke dalam udara disekitar tubuh tumbuhan (http://naynienay.wordpress.com).

Sebagian besar transpirasi berlangsung melalui stomata, sedangkan melalui kutikula daun dalam jumlah yang lebih sedikit. Lebih dari 20% air yang diabsorbsi oleh akar dikeluarkan ke udara sebagai uap air dalam bentuk transpirasi. Transpirasi tersebut menimbulkan arus transpirasi yaitu translokasi air dan ion organik terlarut dari akar ke daun melalui xilem (http://id.wikipedia.org.wiki). Jumlah difusi keluarnya uap air dari stomata tergantung pada tingkat kecuraman gradien konsentrasi uap air. Lapisan pembatas yang tebal memiliki gradien yang lebih rendah, dan lapisan pembatas yang tipis memiliki gradien yang lebih curam. Oleh karena itu, transpirasi melalui lapisan pembatas yang tebal akan lebih lambat daripada yang tipis. Tebal lapisan pembatas ini dipengaruhi oleh struktur anatomi daun, seperti rapatnya jumlah trikoma, stomata yang tersembunyi, dll. Air yang menguap pada transpirasi tumbuhan melalui stomata memiliki kekuatan kapiler yang menarik air dari daerah yang berdekatan di dalam daun (http://bima.ipb.ac.id).

III. Hasil Pengamatan

Perlakuan Air yang ditranspirasikan (mm/s)
I II Rata-rata
Laboratorium 2,6×10-3 1,3×10-3 1,95×10-3
Kipas Angin 0 10-3 5×10-4
Cahaya 0 1,6×10-3 0,8×10-3
∑ daun 3,3×10-4 5×10-3 6,65×10-4
Kipas + Cahaya 0 3,3×10-4 1,6×10-4
Kipas + Cahaya (permukaan atas dilapisi vaselin) 1×10-3 0 5×10-4
Kipas + Cahaya (permukaan bawah dilapisi vaselin) 0 0 0

IV.  Pembahasan

Transpirasi merupakan proses evaporasi air melalui tumbuhan. Proses ini berlangsung selama fotosintesis terjadi, yaitu sewaktu stomata daun membuka untuk pertukaran gas antara karbon dioksida dan oksigen. Transpirasi merupakan proses yang penting, serta merupakan tenaga penggerak yang mendorong naiknya air dan bahan mineral lainnya dari akar menuju daun. Naiknya material-material tersebut berkorelasi untuk melaksanakan biosintesis dalam rangka menyuplai fotosintesis, dan mendinginkan daun.

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi laju transpirasi, antara lain : cahaya, temperatur, kelembaban nisbi, pergerakan air dan angin, ketersediaan air tanah dan kelembaban tanah, serta tipe tanaman  tersebut. Ketika tanaman berada di dalam kondisi gelap ataupun malam hari, maka laju transpirasi akan berkurang dibandingkan apabila tanaman terpapar cahaya. Hal tersebut dapat terjadi karena pembukaan stomata distimulasi oleh cahaya, dan kemudian cahaya menghangatkan daun yang dapat memicu proses transpirasi untuk meningkat. Begitupun dengan perubahan temperature, semakin tinggi temperature maka transpirasi akan semakin besar. Ketika temperatur naik sebesar 10°C, transpirasi akan meningkat sebesar tiga kali transpirasi semula. Konsentrasi uap air di udara juga memicu terjadinya transpirasi. Apabila terdapat perbedaan konsentrasi uap air yang cukup signifikan dalam hal ini udara luar lebih kering, maka uap air tersebut akan berdifusi dari stomata daun menuju ke udara sekitar yang memiliki konsentrasi uap air relatif rendah. Hal sebaliknya dapat berlangsung apabila konsentrasi uap air lebih tinggi pada udara bebas.

Udara yang berada disekitar daun akan meningkat kelembapannya apabila tidak ada angin yang berhembus, hal tersebut menyebabkan penurunan laju transpirasi. Ketika angin berhembus, udara lembap akan bergeser dan digantikan oleh udara yang lebih kering. Kelima, jika kehilangan air melalui transpirasi tidak dapat segera digantikan oleh ketersediaan air di dalam tanah, maka dapat dipastikan tumbuhan akan mengurangi laju transpirasinya. Sewaktu akar tumbuhan menyerap air dari tanah dan gagal untuk memenuhi kebutuhan transpirasi yang cenderung cepat, stomata kemudian akan menutup karena sel penjaga kehilangan tekanan turgor. Tanaman dapat mengalami kelayuan apabila tekanan turgor yang berkurang tersebut terjadi dalam jangka waktu yang cukup lama. Perbedaan tipe taanaman memegang peranan penting dalam cepatnya laju transpirasi. Setiap jenis tanaman memiliki tipe maupun jumlah stomata yang berbeda untuk setiap luasan daun. Selain itu, lingkungan hidup juga berpengaruh. Tanaman xerofit akan lebih memiliki laju transpirasi yang lebih kecil, dibandingkan dengan tumbuhan dengan habitat air (http://www.brighthub.com).

Berdasarkan hasil pengamatan, jumlah air yang ditranspirasikan per detiknya pada kondisi laboratorium menempati urutan teratas. Hasil ini kurang sesuai dengan teori maupun literatur yang ada, karena kondisi yang lain seperti adanya cahaya maupun kipas angin seharusnya memiliki laju transpirasi yang lebih besar. Hal tersebut mungkin dikarenakan oleh praktikan yang kurang teliti dalam melakukan pengukuran, serta tanaman yang mungkin saja telah layu. Layunya tanaman menyebabkan data hasil pengamatan menjadi kurang akurat dan mungkin saja menjadi lebih kecil dari yang seharusnya. Sedangkan untuk hasil yang diperoleh pada setengah jumlah daun, telah cukup sesuai dengan yang seharusnya. Hasil yang diperoleh akan lebih kecil daripada laju transpirasi pada kondisi daun utuh untuk perlakuan laboratorium. Pada data penggunaan vaselin di daun, dapat teramati bahwa laju transpirasi yang lebih tinggi dimiliki oleh bagian atas daun yang ditutup oleh vaselin. Hal ini dapat dimaklumi, karena stomata pada daun terdapat paling di bagian bawahnya. Terbukti dari nilai transpirasi yang nol sewaktu bagian bawah daun ditutup oleh vaselin. Selain itu, penggunaan vaselin yang tidak larut dalam air mungkin menjadi salah satu kendala, yaitu tertutupnya ujung xylem tumbuhan oleh vaselin ketika akan dipasang pada fotometer. Tertutupnya xylem ini berpengaruh pada laju transpirasi yang akan menjadi lebih kecil karena air terhalang dan tidak dapat naik menuju daun (http://plantandsoil.unl.edu).

  1. Kesimpulan

Transpirasi merupakan evaporasi yang berlangsung pada jaringan hidup tumbuhan. Laju transpirasi dipengaruhi oleh cahaya, temperatur, kelembaban nisbi, pergerakan air dan angin, ketersediaan air tanah dan kelembaban tanah, serta tipe tanaman. Setiap faktor ini saling terkair antara yang satu dengan yang lain. Hasil percobaan yang diperoleh kali ini cenderung kurang sesuai dengan literature, karena transpirasi terbesar justru dialami pada perlakuan laboratorium yang tidak melibatkab faktor angin, cahaya, maupun temperatur.

  1. Daftar Pustaka

[Anonim]. 2010. Transpirasi Tumbuhan [Terhubung berkala]. http://bima.ipb.ac.id/-tpb-ipb/materi/bio100/Materi/trnaspirasi_tumb.html (20 April 2010)

[Anonim]. 2010. Plant Transpiration [Terhubung berkala]. http://www.brighthub.com/environment/science-environmental/articles/64374.aspx (20 April 2010)

[Anonim]. 2010. Transpirasi [Terhubung berkala]. http://id.wikipedia.org.wiki/Transpirasi (16 April 2010)

[Anonim]. 2007. Transpirasi Tumbuhan [Terhubung berkala]. http://naynienay.wordpress.com/2007/12/16/transpirasi (16 April 2010)

[Anonim]. 2010. Transpiration-Water Movement Through Plants [Terhubung berkala]. http://plantandsoil.unl.edu/croptechnology/2005/soil_sci/?what=topicsD&informationModuleld=1092853841&topicOrder=6&max=8&min=0 (16 April 2010)

Jawaban Pertanyaan

  1. Jika batang berakar digunakan dalam percobaan ini, maka laju transpirasi akan mengalami penurunan. Hal ini dikarenakan proses masuknya air menjadi lebih sulit. Air akan diserap secara osmosis melalui rambut akar. Kemudian bergerak melalui somplas dari epidermis akar ke xilem. Pada saat endodermis, suberin pada pita kaspari memutus lintasan apoplas dan membentuk lintasan simplas. Kompleksitas penyerapan air di bagian akar ini, menyebabkan air masuk lebih lama.
  2. Daya kohesi-adhesi air terhadap pipa kapiler yang menyebabkan air dalam photometer bergerak. Air yang diserap oleh tumbuhan bergerak melalui xilem menurut gradient potensial air. Air yang bergerak ini mengalami tekanan besar, karena molekul air polar menyatu dalam kolpm akibat dari penguapan pada bagian atas, yaitu pada daun. Kemampuan hidrasi dinding sel ini membuat system adhesi berfungsi. Daya kohesi akan tinggi pada kondisi lingkungan tertentu. Sehingga bila terjadi penguapan, akan berlangsung di titik tertentu dinding sel, dan air akan tertarik dengan proses osmosis.
  3. – Angin : Transpirasi terjadi apabila air berdifusi melalui stomata. Bila angin menghembus   udara lembab dipermukaan daun, perbedaan potensial air di dalam dan tepat di luar lubang stomata akan meningkat dan difusi bersih air dari daun juga meningkat.

–          Cahaya/radiasi : Radiasi sebesar 75%-85% dari radiasi metaqhari total, digunakan untuk memanaskan daun dan untuk melakukan transpirasi. Penyinaran membuat stomata terbuka dan karbon dioksida dalam ruang antar sel menjadi lebih tinggi.

–          Jumlah daun : Semakin banyak jumlah daun, maka semakin luas permukaan daun. Hal tersebut menyebabkan laju transpirasi meningkat.

–          Jumlah stomata : Jumlah stomata dipengaruhi oleh genotype. Semakin banyak jumlah stomata, maka akan semakin banyak air yang ditranspirasikan.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s